Kubu Raya post author Kiwi 31 Agustus 2026

1 Abad Masjid Miftahurridho, Jejak Dakwah Guru Braem Kembali Dikenang

Photo of 1 Abad Masjid Miftahurridho, Jejak Dakwah Guru Braem Kembali Dikenang

KUBU RAYA, SP - Genap berusia satu abad, Masjid Miftahurridho di Desa Durian, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, diperingati melalui rangkaian kegiatan yang sarat nilai sejarah dan keagamaan, Minggu (30/8/2026).

Kegiatan yang bertepatan dengan 17 Syawwal 1448 Hijriah tersebut dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Haul Guru H. Ibrahim bin H. Basyir atau yang lebih dikenal masyarakat Kalimantan Barat sebagai Guru Braem, pembacaan manaqib, tahlilan, doa bersama, serta pameran warisan peninggalan Guru H. Ibrahim.

Masjid Miftahurridho memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Masjid tersebut dibangun oleh H. Basyir, ayah Guru H. Ibrahim bin H. Basyir, pada 1925.

Pada awalnya bangunan tersebut masih berupa langgar atau surau. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1935, bangunan itu berubah status menjadi masjid.

Masjid yang berada di Jalan Trans Kalimantan, Gang Paret Wan Luwi, Desa Durian, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, hingga kini masih mempertahankan sejumlah bagian aslinya.

Karena nilai sejarah tersebut, Masjid Miftahurridho telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat Kabupaten Kubu Raya sejak 2022.

Ketua panitia kegiatan sekaligus perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, Tedy Zulkarnaen, mengatakan peringatan satu abad tersebut merupakan salah satu upaya untuk menghidupkan kembali nilai sejarah dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

“Masjid Miftahurridho ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten sejak tahun 2022. Oleh sebab itu, cagar budaya ini hendaklah dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Tedy.

Menurutnya, Bidang Kebudayaan, khususnya yang menangani cagar budaya, kemudian menginisiasi peringatan satu abad Masjid Miftahurridho dirangkai dengan kegiatan keagamaan dan pengenalan warisan Guru H. Ibrahim.

“Kami menginisiasi pelaksanaan peringatan satu abad Masjid Miftahurridho yang dirangkai dengan Maulid, Haul, dan pameran warisan peninggalan Guru H. Ibrahim,” ujarnya.

Tedy mengatakan antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan. Jamaah mengikuti berbagai rangkaian acara dengan khidmat, terutama ketika pembacaan manaqib Guru H. Ibrahim, tausiah agama, tahlilan, doa bersama, hingga pameran peninggalan sang ulama.

Mengenang Sosok Guru Braem

Selain memperingati usia Masjid Miftahurridho, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk kembali memperkenalkan sosok Guru H. Ibrahim bin H. Basyir kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Dalam pembacaan manaqib, akademisi IAIN Pontianak, Dr. Luqman Hakim, yang juga merupakan perwakilan dari keluarga Guru H. Ibrahim dan penulis manaqib beliau, menjelaskan bahwa Guru H. Ibrahim merupakan ulama sekaligus pendidik masyarakat.

“Beliau bukan hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Luqman.

Guru H. Ibrahim lahir di Padang Tikar pada 1902 dan wafat di Pontianak pada 1988. Ia kemudian dimakamkan di Desa Durian, Jalan Trans Kalimantan, Gang Paret Wan Luwi, Kecamatan Sungai Ambawang, didepan Masjid Miftahurridho.

Dalam perjalanan keilmuannya, Guru H. Ibrahim merupakan murid Tuan Guru H. Ismail Mundu, ulama besar Kalimantan Barat yang dikenal sebagai Mufti Kerajaan Kubu. Setelah menimba ilmu kepada Tuan Guru H. Ismail Mundu, Guru H. Ibrahim mendapat izin untuk mengajarkan ilmu agama yang telah dipelajarinya.

Guru H. Ibrahim kemudian mengajarkan berbagai ilmu keislaman kepada masyarakat, mulai dari Al-Qur’an, adab, fikih, tauhid, sifat dua puluh dan berbagai ilmu agama lainnya.

Namun, kata Luqman Hakim, salah satu ajaran yang sangat ditekankan Guru H. Ibrahim adalah adab.

“Karena adab merupakan ajaran Islam yang langsung dipraktikkan dalam kehidupan. Jika masyarakat kita adabnya baik, maka itu dapat memengaruhi kedamaian dan ketenteraman sebuah negeri,” jelasnya.

Selain dikenal sebagai pendidik, Guru H. Ibrahim juga dikenang karena sifat kedermawanannya. Ia terbiasa menjamu siapa saja yang datang ke rumahnya, baik murid, tamu maupun tetangga.

Menurut informasi dari keluarga, setiap hari Guru H. Ibrahim menyuruh masak dalam jumlah besar untuk menjamu orang-orang yang datang. Setidaknya sekitar 10 kilogram beras dimasak setiap hari, lengkap dengan lauk-pauknya.

Pesan sederhana namun kuat juga terus diwariskan Guru H. Ibrahim kepada anak dan murid-muridnya, yakni agar tidak meninggalkan shalat.

Pemerintah Dorong Pelestarian

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kubu Raya, Gusti Maulana, yang hadir mewakili Bupati Kubu Raya, mengapresiasi kegiatan tersebut.

Menurutnya, peringatan satu abad Masjid Miftahurridho menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk mengetahui dan merawat keberadaan salah satu bangunan bersejarah di Kubu Raya.

“Kegiatan ini sangat bagus. Kita sebagai bagian dari masyarakat semakin mengetahui keberadaan masjid yang sudah berusia satu abad ini. Kondisinya masih asli dan tentu harus terus dilestarikan serta dipelihara,” katanya.

Ia juga mengapresiasi pengenalan kembali kiprah Guru H. Ibrahim sebagai salah satu ulama besar yang memiliki jejak dakwah di Kabupaten Kubu Raya.

“Saya hanya tahu Guru Braem. Saya berniat suatu saat akan ziarah. Alhamdulillah, akhirnya hari ini saya bisa ziarah, bahkan bisa melihat langsung peninggalan-peninggalan beliau. Ini luar biasa,” ujarnya.

Gusti Maulana berharap kegiatan serupa dapat terus digalakkan sehingga sejarah masjid dan kiprah para ulama lokal tidak hilang dari ingatan generasi berikutnya.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Sekretaris Kecamatan Sungai Ambawang, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, perwakilan Badan Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat, akademisi IAIN Pontianak, keluarga dan anak Guru H. Ibrahim, sejumlah murid beliau, serta jamaah dari berbagai daerah.
Anak kandung Guru H. Ibrahim, Hj. Halbani, mengaku bersyukur dan bahagia melihat antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, acara ini terlaksana dengan sukses. Saya sangat senang, masyarakat datang ramai sekali. Ada pembacaan manaqib, tahlil dan pameran. Ini pertama kali diadakan pameran terkait orang tua saya, sehingga masyarakat merasa lebih dekat dan lebih tahu tentang beliau. Alhamdulillah,” tuturnya.

Membawa Warisan Ulama Lebih Dekat kepada Masyarakat

Pameran peninggalan Guru H. Ibrahim menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian masyarakat. Bagi sebagian peserta, pameran tersebut membuka kesempatan untuk mengenal sosok Guru Braem tidak hanya melalui cerita, tetapi juga melalui benda-benda peninggalan yang masih tersimpan.

Salah seorang peserta, Ayu dari Pontianak, mengaku selama ini hanya mengenal nama Guru Braem tanpa mengetahui secara utuh sejarah kehidupan dan peninggalannya.

“Saya selama ini sering mendengar nama Guru Braem, tetapi bagaimana sejarah beliau dan peninggalannya saya tidak tahu. Baru sekarang saya mengetahui profil beliau dan bisa melihat langsung peninggalannya,” katanya.

Kegiatan satu abad Masjid Miftahurridho dan Haul Guru H. Ibrahim bin H. Basyir tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih jauh, momentum ini menjadi upaya untuk mendekatkan generasi sekarang dengan sejarah masjid, ulama, dan tradisi keislaman lokal yang telah diwariskan selama puluhan tahun.

Warisan Guru Braem, khususnya keteladanan dalam ilmu, adab, kedermawanan dan keteguhan menjaga shalat, diharapkan dapat terus hidup dan menjadi inspirasi bagi masyarakat.

Sementara Masjid Miftahurridho yang telah melewati perjalanan satu abad diharapkan tetap menjadi ruang ibadah, pendidikan, dakwah, sekaligus titik penting dalam menjaga ingatan sejarah Islam masyarakat Kubu Raya dan Kalimantan Barat. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda